Rizal Simon Thene, Kasus Kematian Agustinus Leyong Tolok Perlu dibuka Kembali

Lewoleba (NTT), abpnews – Kasus kematian Agustinus Leyong Tolok, Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Atadei perlu dibuka kembali secara tuntas dan detail. Dalam menggali peristiwa hukum berupa penemuan mayat ini harus berasaskan praduga bersalah dalam mengukapkan kasus ini agar dapat terarah apakah suatu tindak pidana atau bukan. Hal itu disampaikan Rizal Simon Thene, SH., M.Hum selaku kuasa hukum istri korban Selasa, (21/9/2021).
 
“Dalam proses penyelidikan sesuai Pasal 5 KUHAP, penyelidik merangkai suatu peristiwa dengan cara menghimpun keterangan dan barang bukti, terkait penemuan mayat yang kemudian diketahui bernama Agustinus Leyong Tolok, Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Atadei perlu digali tuntas dan detail.

Dalam SP2HP yang dikeluarkan Polres Lembata tanggal 17 Juli 2021 menjelaskan kematian korban disebabkan karena konsumsi alkohol berlebihan yang berdampak pada lambung, ginjal dan kemih. Tapi SP2HP tersebut tidak menjelaskan kapan korban meminum alkohol, alkohol jenis apa yang diminum, berapa banyak alkohol yang diminum, dengan siapa dan kapan mereka minum dst. Dari 12 orang saksi yang telah diperiksa apakah ada saksi yang bersama-sama korban minum atau melihat korban sedang minum pada Jumat, 13 November 2020.

Korban hilang dan dicari keluarga sejak Jumat tanggal 13 November 2020, akhirnya ditemui tidak lagi bernyawa pada Sabtu, 14 November 2020. Seharusnya Penyelidikan dalam pemeriksaan 12 saksi yang dijelaskan dalam SP2HP menjelaskan lebih detail mengenai alasan-alasan tersebut, bagaimana alur kematian korban, dari awal kepergian korban dari rumah hingga tidak pulang lagi, tempus & locus, factor-faktor lain yang berkaitan dengan korban ini. Dalam merangkai peristiwa hukum ini harus berasaskan pada asas praduga bersalah sehingga dalam mengukapkan kasus penemuan mayat ini dapat terarah apakah merupakan suatu tindak pidana atau bukan. Kita minta agar kasus ini dibuka kembali, orang-orang yang dicurigai diperiksa kembali. Kita juga sudah bersurat meminta hasil penyelidikan”, jelas advokat Rizal yang juga dosen hukum pidana Fakultas Hukum Undana ini.
 
Dalam kronologi yang ditandatangani istri korban Yustina Bluan dan Kuasa Hukumnya disebutkan, “keesokan paginya Sabtu, 14 November 2020 sekitar pkl. 05.30 Wita istrinya menanyakan keberadaan korban dirumah orang tua yang letaknya bersebelahan dengan rumah korban tapi ternyata korban tidak ada.
 
Sekitar siang (jam berapa lupa) istri korban hubungi ibu Letek jawabannya sama, korban tidak ada hanya ada motornya saja, istri korban WA lagi menanyakan apakah sebaiknya lapor polisi saja atau bagaimana, tapi jawaban ibu Letek mengarahkan untuk cek keluarga dilerek dan di Lewoleba. Akhirnya istri korban menghubungi iparnya yang berada di Lewoleba tetapi tidak diangkat, kemudian istri korban menghubungi kakak korban yang ada di Kalimantan untuk meminta nomor hp keluarga di Lerek setelah mendengar cerita dari istri kakak korban menghubungi keluarga di lerek tapi korban tidak ada kemudian menghubungi kakak korban yang berada di Lewoleba, tetapi korban tidak ada juga.
 
Akhirnya berita kehilangan ini dinaikan ke grup Bicara Lembata oleh kakak kandung korban, sejak berita dikeluarkan warga mulai berdatangan kerumah korban, melihat banyaknya warga yang mulai berdatangan istri korban mulai panik dan syok sehingga dijemput keluarga kerumah om kandung dari istri korban (Raimundus Ola Basa). Saat sampai dirumah keluarga ibu Letek dan suami (Dus) menelpon istri korban dan meminta bertemu dirumah korban tetapi istri korban menyuruh untuk menemuinya dirumah keluarga om (Raimundus Ola Basa).
 
Tidak puas, mereka (Letek dan Dus) menyuruh orang untuk memanggil istri korban tetapi istri korban tidak mau dan menyuruh mereka kerumah keluarga istri korban (Raimundus Ola Basa). Tidak lama kemudian mereka berdua (Letek dan Dus) datang  menceritakan, melihat korban keluar lewat samping ruang lab dan setelah itu entah kemana, dan mereka (Letek dan Dus) mengarahkan keluarga untuk cari orang pintar dan disuruh mencoba cari ke kebun-kebun yang dikelola oleh korban dan keluarga.
 
Sekitar pukul 19.45 pada hari Sabtu, mayat ditemukan disamping sekolah yang berjarak dari gedung asrama sekitar 25 meter. Karena merasa banyak kejanggalan atas kasus kematian almarhum maka istri korban membuat laporan ke Polres Lembata dengan Nomor: LP/105/XI/Res.1.24/2020/NTT/Polres Lembata tanggal 16 November 2020.
 
Tanggal 20 November 2020 dikeluarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Nomor; B/156/XI/2020/Reskrim ditujukan ke ibu Yustina Bluan (istri korban), dalam SP2HP tersebut dijelaskan “Bersama ini kami beritahukan bahwa informasi Saudari telah dilimpahkan ke Penyidik Polres Lembata sehubungan dengan kasus dugaan tindak pidana Penemuan Mayat dan akan kami lakukan Penyelidikan/Penyidikan dalam waktu 14 (empat belas) hari dan jika diperlukan waktu penyelidikan/Penyidikan akan kami beritahukan lebih lanjut.

Setahun kemudian muncul Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Nomor; SP2HP/168/Res.1.24/VII/2021/Reskrim tanggal 17 Juli 2021 yang menjelaskan kasus penemuan mayat ini dihentikan penyelidikannya”, tulis kronologi.(*)

Tags

Share this post:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.