Pledooi Abdul Syukur dkk, Peran korban Hadi Patipilohi Bersifat Temperamental, Irasional dan Fatal

Lembata, abpnews – Ketiga terdakwa Abdul Syukur, Ahmad Walanda Bethan dan Ibrahim Dore divonis empat bulan lima belas hari. Ketiganya divonis Majelis Hakim pada Senin, (25/10/2021). Majelis Hakim dipimpin Yulianto Thosuly, SH, MH selaku hakim Ketua, Petra Kusuma Aji, SH dan Tarekh Chandra Darusman, SH masing-masing sebagai hakim anggota. Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Lembata menuntut ketiganya dengan enam bulan penjara.
 
Penasehat Hukum Terdakwa dari Kantor Hukum ABP menyampaikan pledoi (nota pembelaan) setelah pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum. Dalam pledoi yang dibacakan Rafael Ama Raya, SH menjelaskan peran korban Hadi Patipilohi yang temperamental, irasional dan fatal pada Selasa, 8 Juni 2021 sebagai penyumbang kejadian tersebut, kita mengkonstruksikan sekaligus mengevaluasi peristiwa tersebut berdasar fakta yang terungkap dipersidangan, kami simpulkan peran korban Hadi Patipilohi yang bersifat temperamental, irasional dan fatal meliputi 3 (tiga) titik penting.

“Pertama, ketika para terdakwa datang dilokasi untuk memasang plang nama, menggantikan plang nama lama yang rusak yang dipasang sejak tahun 2016, saat itu Hadi Patipilohi sedang bersama tukang mengerjakan fondasi Mushalla, korban Hadi Patipilohi dengan emosi mencabut papan nama itu sampai kawannya Para Terdakwa terjatuh.

Saat korban sedang mengerjakan fondasi Mushalla bersama tukang dari Jawa, Para Terdakwa tidak melakukan apa-apa, belum memukul. Jadi dari awal telah kelihatan Para Terdakwa tidak ada niat atau rencana untuk melayani korban saat sedang marah-marah saat sedang mengerjakan fondasi Mushalla dilahan itu. Dengan tidak melayani korban yang sedang marah-marah ditafsirkan bahwa memang tidak ada niat atau rencana Para Terdakwa untuk bertengkar, apalagi memukul korban Hadi Patipilohi.
 
Seharusnya korban Hadi Patipilohi menyadari dengan marah-marah penuh emosi saat mencabut papan nama milik orang lain (Dolulolong) dengan tata cara yang melanggar hukum itu sampai membuat kawannya Para Terdakwa terjatuh (CHAIRUL AZMAN BANGKA), dengan kejadian pencabutan papan nama yang sifatnya provokatif dan melanggar hukum itu harusnya korban Hadi Patipilohi menyadari dan meminta maaf, karena plang nama bukan pada saat itu Selasa, 8 Juni 2021 dipasang, tapi telah dipasang sejak tahun 2016. Kenapa tidak dicabut pada tahun 2016, dan kenapa membuat fondasi ditempat papan nama itu dipasang?
 
Sikap provokatif yang temperamental dari korban Hadi Patipilohi menjadi penyumbang kejadian tersebut yang dilakukan dengan tiba-tiba oleh para terdakwa tanpa sengaja (sebagai pengganti maksud), para terdakwa dibuat malu karena menyerang kehormatan diri melalui pencabutan papan nama masyarakat adat tersebut.

Sampai mendorong saksi CHAIRUL AZMAN BANGKA terjatuh, dan mengalami bengkak bagian leher belakang dan luka memar di pelipis mata namun saksi tidak Visum dan tidak Lapor ke Kantor polisi karena korban adalah keluarga dekat.
 
Kedua, ketika korban Hadi Patipilohi dengan emosi mencabut papan nama itu sampai kawannya terdakwa yakni CHAIRUL AZMAN BANGKA terjatuh, dengan sikap korban Hadi Patipilohi yang temperamental demikian, wajar saja para terdakwa penasaran, tersinggung, dianggap dilecehkan hingga berakibat sampai memukul korban Hadi Patilohi.
 
Pemukulan terprovokasi dari sikap korban Hadi Patilohi yang temperamental tersebut. Karena jaraknya berdekatan dalam durasi waktu yang mepet antara pencabutan papan nama oleh korban Hadi Patipilohi dan pemukulan oleh Para Terdakwa, dari jarak dan durasi waktu yang mepet tersebut, olehnya tidak ada waktu untuk berbuat lain apalagi menghindar, kalau bisa menghindar kenapa harus memukul?

Durasi waktu kurang lebih 2 (dua) menit, begitu papan plang dicabut dan dibanting korban Hadi Patipilohi, begitu juga para terdakwa seketika memukul korban. Secara phisikologis para terdakwa sudah sangat cemas, dan menduga-duga apa yang akan terjadi dengan sikap provokatif korban Hadi Patipilohi seperti itu. Ketika korban marah-marah dan mencabut papan nama dan membantingnya, wajar saja para terdakwa terdorong untuk mempertahankan kehormatan diri masyarakat adat yang ditulis pada papan itu. Disinilah letak kefatalan terjadi.

Secara phisikologis dari rangkaian kejadian yang berkesinambungan tersebut telah bersatu sehingga membuat tidak ada peluang sekecil apapun untuk para terdakwa menghindar dari peristiwa itu, olehnya terjadi pemukulan, ini situasi phisikologis yang datang secara bersamaan akibat peran korban yang provokatif dan temperamental.

Dalam hubungan ini situasi phikologis ini, David O. Sears seorang phisikologi sosial dalam bukunya Psychology Social, Jilid II, tahun 1985 mengatakan; “Pada umumnya orang akan marah dan agresif terhadap sumber serangan. Demikian juga, berbagai rangsangan yang tidak disukai dapat menimbulkan agresi (halaman 6). Bahwa salah satu sebab melakukan agresi bila anda dimarahi orang lain dijalan raya adalah bahwa orang tersebut akan membalas”.

Kesimpulan David O. Sears tentunya setelah melakukan pengamatan dan penelitian dari berbagai kasus yang terjadi.
 
Mungkin kita tidak sadari bahwa ada hal-hal yang bersifat kondisional disekeliling kita yang potensial untuk eksplosif manakala picunya muncul. Agaknya peristiwa Selasa, 8 Juni 2021 antara Para Terdakwa dan korban telah membuktikan itu. Situasi kondisional dengan sikap temperamental dari korban Hadi Patipilohi.

Persidangan ini pasti sependapat dengan kami bahwa peristiwa Selasa, 8 Juni 2021 didesa Balauring, kecamatan Omesuri, kabupaten Lembata antara korban dan Para Terdakwa adalah peritiwa kecil saja. Orang bertengkar karena saling serobot lahan, biasa saja. Tapi mengapa menjadi fatal sampai terjadi korban Hadi Patipilohi dipukul?

Tentu pasti ada sesuatu yang tidak disadari. Hemat kami, hal yang tidak disadari itu adalah keadaan sikap dan mental korban Hadi Patipilohi yang temperamental dan irasional tersebut. Mental yang tidak beres pada diri korban Hadi Patipilohi menjadi potensial terjadi kekerasan fisik saat itu. Situasi seperti sikap korban Hadi Patipilohi itulah yang kemudian melahirkan perilaku irasional yang agaknya memicu/mengakibatkan kekerasan fisik antara Para Terdakwa dan korban Hadi Patipilohi.

Olehnya kami hendak mengajak persidangan ini untuk menghubungkannya dengan Pasal 49 ayat (1) dan (2) KUHP yaitu tentang;“mempertahankan kehormatan dirinya atau diri orang lain daripada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan segera serta pembelaan yang melampaui batas”.

Sebagaimana ditulis dalam literatur hukum pidana bahwa timbulnya sikap mempertahankan kehormatan dirinya atau diri orang lain daripada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan segera serta pembelaan yang melampaui batas (noodweerexces) bila ada serangan yang melawan hukum yaitu suatu gemoesdsbeweging, suatu kegoncangan hati berupa ketakutan, kemarahan dan reaksi (pembelaan) yang dilakukan melampaui batas yang diijinkan atau dengan kata lain pelampauan batas keperluan karena ada bahaya ketika itu (vide, Pompe, Simons dan R. Susilo).
 
Sikap emosi (marah-marah) korban Hadi Patipilohi dan mencabut plang nama milik orang lain jelas melanggar hukum. Selain itu sikap emosi (marah-marah) korban Hadi Patipilohi yang mencabut plang nama telah mengakibatkan suatu kegoncangan hati, merasa dilecehkan, menyerang kehormatan/harga diri, bercampur marah juga takut sekaligus.

Situasi demikain, seperti ditulis oleh ahli phisikologi sosial David O. Sears, memang suatu agresi yang sifatnya membela diri. Pasal 49 ayat (2) KUHP menentukan; “pembelaan terpaksa yang melampaui batas yang langsung disebabkan oleh kegoncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu dalam mempertahankan kehormatan, tidak boleh dipidana”.

Ketiga, sebelum terjadi peristiwa Selasa, 8 Juni 2021, sehari sebelumnya masyarakatadat Dolulolong yang diwakili Lembaga adat menyampaikan aspirasinya melalui Pemerintah Desa Dolulolong, dengan maksud Pemerintah Desa Dolulolong melakukan kordinasi dengan Pemerintah Desa Balauring.
 
Akhirnya Pemerintah Desa dan BPD Dolulolong pada Senin, 7 Juni 2021 bertemu dengan Kepala Desa Balauring Syarif Patipilohi (anak kandung korban Hadi Patipilohi) dan menyampaikan maksud bahwa pengerjaan fonderen (fondasi) Mushalla dilahan tersebut dipending sementara. Tapi Syarif Patipilohi (anak kandung korban Hadi Patipilohi) tidak menghendaki.

Hal ini perlu diungkap agar terhindar dari kesimpulan yang tidak lengkap, utuh dan akurat sekaligus menghindari menghukum para terdakwa yang sesungguhnya bukan seluruhnya merupakan tanggungjawab para terdakwa.

Karena fase pertemuan antara Pemerintah Desa Dolulolong dan Pemerintah Desa Balauring menjadi sangat penting karena menjadi salah satu sebab dari kefatalan tersebut. Membaca kesimpulan dalam surat tuntutan seolah-olah pemukulan pada korban Hadi Patipilohi tidak ada sebab atau tidak ada peran korban didalamnya. Apakah betul demikian? Olehnya rangkaian fakta harus ditarik seutuhnya dari seluruh rangkaian fakta yang telah terungkap dalam persidangan.

Hemat kami, adalah sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan dan keyakinan setelah dibantu dengan alat bukti keterangan saksi dan keterangan para terdakwa, sebab-sebab korban Hadi Patipilohi dipukul tidak sebatas kealpaan (culpa) untuk mempertahankan kehormatan diri para terdakwa (lihat durasi waktu antara pencabutan papan plang dengan pemukulan terdakwa, nyaris bersamaan, Culpa), karena ada sumbangan korban (peran korban) atas kejadian tersebut. Sudah barang tentu adanya kealpaan orang atas suatu akibat, tidak patut, tidak adil sesuai dengan hukum, dibebankan kepada para terdakwa semata-mata”, tulis pledooi.

Ketiga terdakwa bebas dan dijemput oleh yang mewakili Lembaga Adat Dolulolong Ahmad Haba diRutan Lewoleba Kamis, (11/11/2021). Setiba dikampung Dolulolong ditunggu dan dijemput oleh orang tua adat Dolulolong lengkap dengan gong gendang.

Mereka bertindak untuk menjaga harga diri dan kehormatan kampung Dolulolong sesuai adat istiadat yang masih berlaku, olehnya perlu dihargai. Kehadiran ketiganya dijemput orang tua adat Abdul Latif Soge diGapura pintu masuk kampung Dolulolong bersama ribu ratu (masyarakat) yang sudah setia menunggu. Ketua adat Yunus Dara menunggu di Nuba Nara. Setelah itu diarak ketiganya menuju Nuba Nara (Nuba Sili Kiti Nara Laha Lowa) untuk mengikuti acara serimoni. Hadir acara serimoni Penjabat Kepala Desa Dolulolong Ibrahim Tobi, unsur BPD yang diwakili oleh Mahmud Bethan, kaleq dan seluruh ribu ratu (masyarakat).(*/az/tim)

Tags

Share this post:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.